NAIROBI (SI) – Kapal tanker kimia Premoni dibajak perompak Somalia di Teluk Aden,Jumat (1/1) waktu setempat.Sebanyak 17 awak kapal berasal dari Indonesia.
Bajak laut Somalia beraksi ketika kapal tanker berbendera Singapura itu sedang melakukan perjalanan menuju India.Menurut keterangan pihak East Africa Seafarers Assistance Programme, Andrew Mwangura, Premoni yang turut mengangkut 24 awak ini kapal ketiga yang melintas di kawasan patroli angkatan laut asing.
Dari seluruh awak kapal, 17 orang dilaporkan merupakan warga negara Indonesia (WNI), 5 berkebangsaan China, 1 orang Nigeria, dan 1 awak lagi berasal dari Vietnam. Juru Bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) Indonesia Teuku Faizasyah yang dihubungi via telepon mengungkapkan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura dan KBRI di Nairobi.
“Pihak KBRI di Singapura melaporkan bahwa jumlah awak kapal berkebangsaan Indonesia hanya 14 orang,bukan 17 awak seperti yang telah diberitakan,” ujarnya kemarin.Hingga kini Deplu masih menelusuri kepastian kabar tersebut. Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia(BHI) Teguh Wardoyo mengatakan, pihaknya telah melakukan serangkaian koordinasi dengan aparat terkait di Kenya.
Namun, mereka belum membicarakan persoalan sistem barter yang akan dilayangkan para pembajak. “Kami belum tahu siasat para pembajak. Kami pun belum tahu sistem barternya akan seperti apa,” ungkapnya saat dihubungi kemarin.Wardoyo menyesali pembajakan ini.“Kalau tidak terpaksa, sebaiknya jangan melintas di kawasan berbahaya itu,” ujarnya. Walau demikian,Wardoyo memahami bahwa mungkin saja rutenya mengharuskan Premoni melewati Teluk Aden.
Awal pekan lalu bajak laut Somalia menawan kapal tanker kimia berbendera Inggris, St James Park. Di atas kapal ini turut pula 26 awak yang berasal dari sembilan negara berbeda.Tanker ini melintas di kawasan Teluk Aden dalam perjalanan dari Spanyol menuju Thailand. Selain itu, para bajak laut Somalia juga berhasil membajak kapal barang dari Yaman yang mengangkut 15 awak.
Pada Agustus 2009, bajak laut Somalia membebaskan tugboat Malaysia setelah uang tebusan dibayar. Sebanyak 11 awak kapal adalah WNI.Mereka dibebaskan setelah melewati negosiasi yang sempat terseok-seok selama delapan bulan. Bajak laut Somalia terus memburu kapal-kapal yang melintas di “wilayah jajahan”mereka. Oktober lalu sebuah kapal kontainer berbendera Singapura dibajak dan 21 awaknya disekap di dalam kapal.
Kapal tersebut dibajak di wilayah perairan Samudra Hindia pada Kamis (15/10) pagi. Masih di wilayah perairan yang sama, para bajak laut sebelumnya juga melakukan aksi pembajakan terhadap kapal ikan milik Prancis. April lalu kapal frigat Prancis, Nivose, berhasil menangkap 11 bajak laut Somalia.Kementerian Pertahanan Prancis mengungkapkan, kapal bajak laut itu dihadang sekitar 900 km sebelah Timur Pelabuhan Mombasa di Kenya.
Nivose merupakan bagian satuan tugas Uni Eropa (UE) untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di sepanjang Teluk Aden. Penangkapan terhadap 11 bajak laut ini ternyata tidak lantas menyurutkan aksi pembajakan para “Kapten Hook” ini. Masih pada April, para perompak Somalia membajak sebuah kapal di Teluk Aden.Sebanyak 10 dari 16 awak kapal merupakan warga negara Italia.
Pembajakan yang terus terjadi di Teluk Aden membuat Uni Eropa(UE) turun tangan. Akhir 2008 UE mengirim Angkatan Laut UE pertama ke “tambang emas” para perompak Somalia tersebut. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana mengungkapkan, enam kapal perang dan tiga pesawat pengintai Uni Eropa akan menggantikan Angkatan Laut NATO yang telah berpatroli di sekitar wilayah tersebut sejak Oktober 2008.
Selain NATO, 10 kapal perang dari Amerika Serikat,India,Rusia, dan Malaysia juga turut berpatroli menjaga keamanan di kawasan Teluk Aden.Teluk Aden merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.Teluk ini menghubungkan Samudra Hindia dengan Terusan Suez dan Laut Mediterania. (AFP/BBC/anastasia ika)
src: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/294575/38/